Sejauh Mata Memandang, Sedalam Hati Merasa

Walau sudah jauh melangkah, tetapi hati dan pikiran cenderung melihat ke belakang.

Di Mana Ada Kemauan, Di Situ Pasti Ada Jalan

Kemauan keras akan mengalahkan segalanya, menepis hadang, menghalau rintang, dan menuai hasil untuk masa yang akan datang.

Banyak Jalan Menuju Roma

Senantiasa berusaha mencari cara terbaik, tak kenal putus asa, tak mudah menyerah karena hasil tergambar di depan mata.

Boleh Saja Lupa Diri, Tapi Jangan Seperti Kacang yang Lupa Akan Kulitnya

Sebuah keberhasilan mustahil tanpa peran serta orang lain. Tegur sapa dan ingat merupakan kebanggaan bagi mereka.

Saat-saat Dunia Tersenyum, Mengakui Kita, bahwa Kita Juga Mampu

Menikmati hari tua tanpa adanya penyesalan karena kemampuan mengelola masa lalu dan sekarang. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Kamis, 22 Januari 2015

KERAGUANKU

Mampukah aku? Bisakah aku? Pertanyaan tersebut selalu mengiang di benakku. Aku menginginkan hidup seperti rata-rata orang lain, punya pekerjaan, punya penghasilan meskipun aku tidak memiliki keterampilan. Hidup perlu biaya, kapan dan di mana pun aku berada. Ya ..... biaya hidup walau hanya sebatas untuk membiayai kehidupanku.

Apa yang harus aku lakukan, dari mana aku harus memulai, apa yang harus aku kerjakan? Bingung, seakan pikiranku tidak  mampu menjangkau ke gambaran atau hal yang lebih jauh. Harus bagaimanakah aku? Sekilas terbayang akan teman-temanku, betapa beruntung mereka, hidup enak, nyaman, seakan perlu apa tinggal tekan tombol.

Apakah ini nasib atau takdir? Tidak...... bukan......, ini bukan takdir, bukan nasib, melainkan ini merupakan keadaan yang aku alami sekarang. Bertambah lagi kebingunganku, tidak saja itu, malah aku ragu,  bukan meragukan siapa-siapa tapi ragu degan diri sendiri, kemampuanku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan diriku atau bagaimana keadaanku di masa yang akan datang.

Di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan keadaan kita di masa yang akan datang. Dua kalimat tersebut seakan mulai mengusir pikiranku yang membuat aku bingung. Aku mulai dan fokus pada kalimat itu. Setidaknya aku harus berusaha menjadi tukang untuk diriku, paling tidak memperbaiki keadaanku, nasibku, atau takdirku.

Kuhapus keraguanku, orang lain mampu mengapa aku harus tidak! Orang punya pekerjaan, penghasilan...... aku juga harus walau kulakukan semampuku  Kubulatkan tekadku, kupastikan langkahku, dan kubayangkan bahwa masa depan menyenyumiku lalu ia mengatakan: keadaan kehidupanmu, kesejahteraanmu, kebahagiaanmu ada dalam genggaman tanganmu.

Minggu, 18 Januari 2015

Perpisahan SMK Ihsan Jawai

Tiga tahun sungguh tak terasa, menimba, menggali, dan menyerap pengetahuan sebagai bekal di hari tua. Dalam kurun waktu tersebut, sudah pasti banyak kesalahan yang sengaja atau tak sengaja, langsung atau tak langsung. Oleh sebab itu, dari lubuk hati yang dalam terucap permohonan maaf atas kesalahan tersebut.

Berharap jua doa Bapak/Ibu, agar dalam melangkah ke depan  senantiasa mendapat kemudahan, segala urusan dilancarkan, dan Yang Kuasa selalu melindungi, serta mengantarkan kita ke gerbang pintu kesuksesan.



Bapak/Ibu, janganlah lupakan kami, janganlah lupakan kenakalan kami, kebandelan kami. Itu semua merupakan kenangan manis saat-saat kami berada dalam tautan usia kami. Kami, Bapak/Ibu, terserah orang mau bilang apa, tapi saat itu sepertinya dunia milik kami, dunia memerlukan kami karena dunia tahu bahwa kami mampu mengubahnya, mengubah hari-hari kami, yang pasti selalu lebih baik dan penuh arti dari hari-hari yang telah berlalu.

Kamis, 01 Januari 2015

UCAP DAN HARAP

Selamat jalan dua nol satu empat: pengalaman dan kenangan darimu tetap kami ingat sebagai koreksi diri agar menjadi diri sendiri.

Selamat datang dua nol satu lima: ajak dan ingatkan kami agar tidak menjadi pribadi yang mudah lupa atau sengaja melupakan.

Senin, 29 Desember 2014

MENANYA DIRI

Mengenal diri ternyata rumit, kukira mudah. Aku kenal orang lain, bahkan menguraikan sifat-sifat mereka dari a sampai z aku bisa. Namun, mengenal diri sangat beda, aku berhadapan dengan diriku sendiri yang tiada lain adalah aku. Aku harus berusaha untuk memahami siapa aku, untuk apa aku, bergunakah aku untukku, bagaimana aku, seperti apa aku, dan seberapa bermanfaat aku bagi orang lain yang ada di sekitarku.

Aku menyadari sifat negatif yang ada pada diri ini sama sekali tiada gunanya, kucoba memunculkan sifat positif yang masih tersisa dan ada pada diriku. Sulit memang, karena aku menghadapi diriku. Aku harus melawan diriku, menundukkan amarahku, dan mengendalikan egoku.

Inikah sebuah perjuangan? Karena selama ini, aku berbuat memperturutkan kemauanku setelah aku melihat perilaku orang lain. Kadang aku berlaku kasar dan bahkan tidak wajar, seakan aku bukan diriku. Aku benar-benar dikendalikan oleh emosi dan egoku. Sementara itu, pernah juga terpikir, bagaimana nanti, saat memasuki usia tuaku, saat aku jatuh sakit, saat aku tidak lagi memiliki daya dan upaya? Siapakah yang akan menolong aku? Siapakah yang akan merawatku? Siapakah yang akan menjagaku? Punyakah aku sejumlah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kelak apabila Sang Pencipta memanggilku?